Kamis, 22 Desember 2016

MANAJEMEN KEUANGAN - TEORI STRUKTUR MODAL


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
Salah satu keputusan penting yang dihadapi oleh manager keuangan dalam kaitannya dengan operasional perusahaan adalah keputusan atas Struktur Modal, yaitu keputusan keuangan yang berkaitan dengan komposisi utang, saham prefen dan saham biasa yang harus digunakan oleh perusahaan.
Keputusan Struktur Modal secara langsung berpengaruh  terhadap besarnya  risiko yang ditanggung pemegang saham beserta besarnya tingkat pengembalian  atau tingkat keuntungan yang diharapkan.
Keputusan Struktur Modal yang diambil oleh  manager tersebut tidak saja berpengaruh terhadap profitalitas perusahaan , tetapi juga berpengaruh terhadap resiko yang dihadapi oleh perusahaan.
            Struktur Modal merupakan pilihan pendanaan antara utang dan ekuitas. Teori yang menjelaskan hal tersebut antara lain Teori Trade-Off, Teori Pecking Order, dan Teori lainnya.

1.2.     Rumusan Masalah
           Dalam tulisan ini, kami akan membahas :
           1.    Bagaimana pendapat atau Teori-Teori Tentang Struktur Modal itu sendiri.
           2.    Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi dalam Struktur Modal

1.3.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :
·         Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang paling mempengaruhi dalam pengambilan Keputusan Struktur Modal  suatu perusahaan.

BAB II
PENGERTIAN DAN TEORI STRUKTUR MODAL

Untuk mengetahui Pengertian Struktur Modal, maka dengan ini dapat dijelaskan tentang Definisi Modal dan Definisi Struktur Modal sebagai berikut :

2.1.      Pengertian Modal dan Struktur Modal
            Modal adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan dalam pos modal  (modal saham), keuntungan atau laba yang ditahan atau kelebihan aktiva yang dimiliki perusahaan terhadap seluruh utangnya (Munawir,2001).
Modal pada dasarnya terbagi atas dua bagian yaitu modal Aktif (Debet) dan modal Pasif (Kredit).
            Struktur Modal adalah perimbangan atau perbandingan antara modal asing dan modal sendiri. Modal asing diartikan dalam hal ini adalah hutang baik jangka panjang maupun dalam jangka pendek. Sedangkan modal sendiri bisa terbagi atas laba ditahan dan bisa juga dengan penyertaan kepemilikan perusahaan.
Struktur Modal merupakan masalah penting dalam pengambilan keputusan mengenai pembelanjaan perusahaan. Untuk mengukur Struktur Modal tersebut maka dapat digunakan beberapa Teori yang menjelaskan Struktur Modal dalam suatu Perusahaan.

2.2.      Teori Struktur Modal
2.2.1.   Teori Pendekatan Tradisional
Pendekatan Tradisional berpendapat akan adanya struktur modal yang optimal. Artinya Struktur Modal mempunyai pengaruh terhadap Nilai Perusahaan, dimana Struktur Modal dapat berubah-ubah agar bisa diperoleh nilai perusahaan yang optimal.

2.2.2.   Teori Pendekatan Modigliani dan Miller
Dalam teori ini berpendapat bahwa Struktur Modal tidak mempengaruhi Perusahaan. Dalam hal ini telah dimasukkan faktor pajak. Sehingga nilai Perusahaan dengan hutang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai perusahan tanpa hutang, Kenaikan tersebut dikarenakan adanya penghematan pajak.

2.2.3.   Teori Trade-Off dalam Struktur Modal
Dalam kenyataan, ada hal-hal yang membuat perusahaan tidak bisa menggunakan hutang sebanyak banyaknya. Suatu hal yang terpenting adalah dengan semakin tingginya hutang, akan semakin tinggi kemungkinan kebangkrutan. Biaya kebangkrutan tersebut bisa cukup signifikan. Biaya tersebut terdiri dari 2 (dua) hal, yaitu :
a.       Biaya Langsung
Yaitu, biaya yang dikeluarkan untuk membayar biaya administrasi, atau biaya lainnya yang sejenis.
b.      Biaya Tidak Langsung
Yaitu, biaya yang terjadi karena dalam kondisi kebangkrutan, perusahaan lain atau pihak lain tidak mau berhubungan dengan perusahaan secara normal. Misalnya Suplier tidak akan mau memasok barang karena mengkwatirkan kemungkinan tidak akan membayar.

Biaya lain dari peningkatan hutang adalah meningkatnya biaya keagenan antara pemegang hutang dengan pemegang saham akan meningkat, karena potensi kerugian yang dialami oleh pemegang hutang akan meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan. Pengawasan bisa dilakukan dalam bentuk biaya biaya monitoring (Persyaratan yang lebih ketat) dan bisa dalam bentuk kenaikan tingkat bunga.

2.2.4.   Teori Pecking Order
Teori Trade-Off mempunyai implikasi bahwa manager akan berfikir dalam kerangka trade-off antara penghematan pajak dan biaya kebangkrutan dalam penentuan Struktur Modal. Dalam kenyataan empiris nampaknya jarang manager keuangan yang berfikir demikian.

Secara spesifik, perusahaan mempunyai urutan-urutan prefensi dalam penggunaan dana. Skenario urutan dalam Teori Pecking Order adalah sebagai berikut :
a.       Perusahaan memilih pandangan internal. Dana internal tersebut diperoleh dari laba (keuntungan) yang dihasilkan dari kegiatan perusahaan.
b.      Perusahaan menghitung target rasio pembayaran didasarkan pada perkiraan kesempatan investasi.
c.       Karena kebijakan deviden yang konstan, digabung dengan fluktuasi keuntungan dan kesempatan investasi yang tidak bisa diprediksi, akan menyebabkan aliran kas yang diterima oleh perusahaan akan lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran investasi pada saat-saat tertentu dan akan lebih kecil pada saat yang lain.
d.      Jika padangan eksternal diperlukan, perusahaan akan mengeluarkan surat berharga yang paling aman terlebih dulu. Perusahaan akan memulai dengan hutang, kemudian dengan surat berharga campuran seperti obligasi konvertibel, dan kemudian barangkali saham sebagai pilihan terakhir.

Teori Pecking Order ini bisa menjelaskan mengapa perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan yang lebih tinggi justru mempunyai tingkat hutang yang lebih kecil.

2.2.5.   Teori Asimetri Informasi dan Signaling
Teori ini mengatakan bahwa dalam pihak pihak yang berkaitan dengan perusahaan tidak mempunyai informasi yang sama mengenai prospek dan resiko perusahaan. Pihak tertentu mempunyai informasi yang lebih dari pihak lainnya.
                        Teori ini terdiri dari Teori :
a.      Myers dan Majluf
Menurut Teori ini ada asimetri informasi antara manager dengan pihak luar. Manager mempunyai informasi yang lebih lengkap mengenai kondisi perusahaan dibandingan pihak luar.
b.      Signaling
Mengembangkan model dimana struktur modal (penggunaan hutang) merupakan signal yang disampaikan oleh manager ke pasar. Jika manager mempunyai keyakinan bahwa prospek perusahaan baik, dan karenanya ingin agar saham tersebut meningkat, ia ingin megkomunikasikan hal tersebut kepada investor. Manager bisa menggunakan hutang lebih banyak sebagai signal yang lebih credible. Karena perusahaan yang meningkatkan hutang bisa dipandang sebagai perusahaan yang yakin dengan prospek perusahaan di masa mendatang. Investor diharapkan akan menangkap signal tersebut, signal bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik.

2.2.6.   Teori Lainnya
                        2.2.6.1. Pendekatan Teori Keagenan (Agency Approach)
Menurut pendekatan ini, struktur modal disusun untuk mengurangi konflik antar berbagai kelompok kepentingan. Konflik antara pemegang saham dengan manager adalah konsep free-cash flow. Ada kecenderungan manager ingin menahan sumber daya sehingga mempunyai control atas sumber daya tersebut. Hutang bisa dianggap sebagai cara untuk mengurangi konflik keagenan free cash flow. Jika perusahaan menggunakan hutang, maka manager akan dipaksa untuk mengeluarkan kas dari perusahaan untuk membayar bunga.

2.2.6.2.Pendekatan Interaksi Produk
Teori ini berangkat dari teori organisasi industri dan relatif baru, dibandingkan dengan teori lainnya. Ada dua kategori dalam pendekatan ini, yaitu Strategi dan Menjelaskan hubungan antara Struktur Modal dengan karakteristik produk atau input.

2.2.6.3.Konteks atas Pengendalian Perusahaan
Beberapa penemuan pendekatan ini adalah perusahaan yang menjadi target (dalam pengambilalihan) akan meningkatkan tingkat hutangnya, berhubungan dengan kemungkinan sukses tender offer (penawaran terbuka pada proses pengamalihan usaha).

BAB III
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRUKTUR MODAL

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi Struktur Modal antara lain :

3.1.      Struktur Aktiva (Tangibility)
Kebanyakan perusahaan industri yang sebagian besar modalnya tertanam dalam aktiva tetap , akan mengutamakan pemenuhan modalnya dari modal yang permanen yaitu modal sendiri, sedangkan hutang bersifat pelengkap. Perusahaan yang semakin besar aktivanya terdiri dari aktiva lancar akan cenderung mengutamakan pemenuhan  kebutuhan dana dengan utang. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh struktur aktiva terhadap struktur modal suatu perusahaan.

3.2.      Growth Opportunity
Yaitu kesempatan perusahaan untuk melakukan investasi pada hal-hal yang menguntungkan. Teori Agency menggambarkan hubungan yang negatif antara Growth Opprtunity dan leverage. Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi cenderung akan melewatkan kesempatan  dalam berinvestasi pada kesempatan investasi yang menguntungkan.

3.3.      Ukuran Perusahaan (Firm Size)
            Perusahaan besar cenderung akan melakukan diversifikasi usaha lebih banyak dari pada perusahaan kecil. Oleh karena itu kemungkinan kegagalan dalam menjalankan usaha atau kebangkrutan akan  lebih kecil. Ukuran perusahaan sering dijadikan indikator bagi kemungkinan terjadinya kebangkrutan bagi suatu perusahaan, dimana perusahaan dalam ukuran lebih besar dipandang lebih mampu menghadapi krisis dalam menjalankan usahanya.

3.4.      Profitabiltas
Teori Pecking Order mengatakan bahwa perusahaan lebih menyukai  internal funding. Perusahaan dengan profitalitas yang tinggi tentu memiliki dana internal yang lebih banyak dari pada perusahaan dengan profitalitas rendah.
Perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi  investasi menggunakan utang yang relatif kecil (Bringham & Houston, 2001).
Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan dengan dana yang dihasilkan secara internal. Hal ini menunjukkan bahwa profitalitas berpengaruh terhadap struktur modal perusahaan.  Semakin tinggi keuntungan yang diperoleh berarti semakin rendah utang.

3.5.      Risiko Bisnis
Risiko Bisnis akan mempersulit perusahaan dalam melaksanakan pendanaan eksternal, sehingga secara teori akan berpengaruh negatif terhadap leverage perusahaan.

BAB IV
KESIMPULAN

Dari   uraian  yang  telah   di tulis   maka  dapat  diambil   kesimpulan  sebagai   berikut   :

1.         Bahwa Struktur Aktiva (Tangibility), Growth Opportunity, Ukuran Perusahaan (Firm Size), Profitabilitas dan  Risiko Bisnis baik secara simultan maupun parsial mempunyai pengaruh pada Keputusan Struktur Modal Suatu Perusahaan.

2.         Dari faktor-faktor tersebut mempunyai pengaruh satu dengan yang lainnya. Sehingga dengan demikian Para Investor, Kreditor maupun Managemen Perusahaan  hendaknya memberikan perhatian yang lebih kepada informasi atas faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut.

TEORI PRODUKSI - Fungsi Produksi, Teori Produksi Dengan Satu Input dan Teori Produksi Dengan Dua Input

BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG
Ilmu ekonomi adalah suatu telah mengenai individu-individu dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya dengan menggunakan sumberdaya yang terbatas sebagai konsekuensi dari adanya kelangkaan. Kelangkaan berarti tidak semua kebutuhan manusia dapat dipenuhi sehingga memaksa manusia untuk membuat pilihan. Dengan melakukan pilihan, pemenuhan atas suatu kebutuhan tertentu memiliki implikasi mengorbankan kebutuhan lain. Teori ekonomi memberikan gambaran umum yang disederhanakan mengenai kegiatan-kegiatan ekonomi dan sifat-sifat hubungan ekonomi disertai dengan penerapan prinsip-prinsip ekonomi mikro. Ekonomi mikro menangani perilaku satuan-satuan ekonomi mencakup konsumen, pekerja, para penanam modal, pemilik tanah dan setiap individu yang memainkan peranan dalam fungsi perekonomian.
Dalam makalah ini kami akan membahas tentang teori produksi, yaitu bagaimana fungsi produksi, yang membahas hubungan di antara faktor-faktor produksi dan tingkat produksi yang dihasilkan. Faktor-faktor produksi dapat dibedakan menjadi empat golongan, yaitu tenaga kerja, tanah, modal dan keahlian keusahawanan. Di dalam teori ekonomi, di dalam menganalisis mengenai produksi, selalu dimisalkan bahwa tiga faktor produksi yang belakangan dinyatakan (tanah, modal dan keahlian keusahawanan) adalah jumlahnya tetap. Hanya tenaga kerja yang dipandang sebagai faktor yang berubah-ubah jumlahnya. Dengan demikian, di dalam menggambarkan hubungan di antara faktor produksi yang digunakan dan tingkat produksi yang dicapai, yang digambarkan adalah hubungan diantara jumlah tenaga kerja yang digunakan dan jumlah produksi yang dicapai. Selain itu, juga membahas tentang teori produksi dengan satu input dan teori produksi dengan dua input.



BAB II
PEMBAHASAN

11.   Pengertian Teori Produksi 
                   Secara umum, produksi dapat diartikan sebagai kegiatan optimalisasi dari faktor-faktor produksi seperti, tenaga kerja, modal, dan lain-lainnya oleh perusahaan yang menghasilkan produk berupa barang-barang dan jasa-jasa. Secara teknis, kegiatan produksi dilakukan dengan mengombinasikan beberapa input untuk menghasilkan sejumlah output. Dalam pengertian ekonomi, produksi didefinisikan sebagai usaha manusia untuk menciptakan atau menambah daya atau nilai guna dari suatu barang atau benda untuk memenuhi kebutuhan manusia.
            Bagi kebanyakan manajer perusahaan, persoalan produksi yang dihadapi adalah bagaimana memproduksi suatu produk dengan komposisi yang paling menguntungkan baik komposisi input yang dipergunakan maupun komposisi jenis produk yang akan dihasilkan. Untuk memaksimumkan profit, para manajer perusahaan harus berorientasi pada usaha memproduksi secara efisien dengan beban biaya minimal.
Hal ini diartikan sebagai upaya untuk secara terus menerus mencari dan menemukan metode rekayasa memproduksi serta membandingkan metode yang dipakai dengan metode yang sudah pernah digunakan oleh perusahaan sebelumnya. Dari perbandingan tersebut dipilih suatu metode yang merupakan terbaik, dengan menghasilkan keuntungan tertinggi bagi perusahaan.
Pada teori produksi yang biasa dibahas dalam kebanyakan literatur ekonomi manajerial terdapat berbagai macam metode pendekatan. Pendekatan yang pertama ialah pendekatan yang menggunakan satu input. Pendekatan kedua dikenal sebagai pendekatan dua input dan pendekatan ketiga adalah dengan pendekatan biaya total. Tetapi yang akan dibahas hanya pendekatan yang menggunakan satu input dan pendekatan yang menggunakan dua input.
                                                                                                                                          


  2.     Fungsi Produksi
Secara definitif, fungsi produksi adalah fungsi yang menjelaskan hubungan antara tingkat kombinasi input (faktor produksi) dengan tingkat output yang dimungkinkan untuk diproduksi pada tingkat kombinasi input tersebut. Faktor-faktor produksi yang dimaksud disini antara lain berupa sumber daya alam dan energi (SDAE), sumber daya manusia atau SDM (tenaga kerja), sumber daya kapital (SDK), sumber daya teknologi (SDT), dan lain-lain. Hubungan antara masukan dan keluaran dinyatakan oleh sebuah fungsi yang disebut fungsi produksi, secara matematis dirumuskan sebagai berikut:

Q = fungsi (SDAE, SDM, SDK, SDT, …..)
atau
Q = fungsi (X1, X2, X3, ….. Xn)
Keterangan :
Q                     =          Kuantitas output yang dimungkinkan diproduksi
X1,2,3,…,n          =          Faktor-faktor produksi

            Pada bentuk matematis di atas fungsi produksi kita dapatkan faktor produksi sebanyak n dengan output sejumlah 1. Ini berarti untuk menggambarkan fungsi produksi ini secara grafis memerlukan n + 1 dimensi. Jika n > 2 maka penggambaran fungsi produksi memerlukan lebih dari 3 dimensi dan ini merupakan hal yang sangat sulit atau bahkan tidak mungkin dilakukan. Agar penggambaran fungsi produksi dapat dengan mudah kita laksanakan maka biasanya dalam fungsi produksi yang kita masukkan dan kita kombinasikan hanyalah 2 faktor produksi, yaitu modal dan tenaga kerja. Fungsi produksi yang telah kita sederhanakan menjadi:

Q = Æ’(K, L, R, T)

            Dimana K adalah faktor produksi modal (Capital), L adalah faktor produksi tenaga kerja (Labour) dan ini meliputi berbagai jenis tenaga kerja dan keahlian keusahawanan, R adalah kekayaan alam, dan T adalah tingkat teknologi yang digunakan. Sedangkan Q adalah jumlah produksi yang dihasilkan oleh berbagai jenis faktor-faktor produksi tersebut, yaitu secara bersama digunakan untuk memproduksi barang yang sedang dianalisis sifat produksinya.
            Persamaan tersebut merupakan suatu pernyataan matematik yang pada dasarnya berarti bahwa tingkat produksi suatu barang tergantung kepada jumlah modal, jumlah tenaga kerja, jumlah kekayaan alam, dan tingkat teknologi yang digunakan jumlah produksi yang berbeda-beda dengan sendirinya akan memerlukan berbagai faktor produksi tersebut dalam jumlah yang berbeda-beda juga. Di samping itu, untuk satu tingkat produksi tertentu, dapat pula digunakan gabungan faktor produksi yang berbeda. Sebagai contoh untuk memproduksi sejumlah hasil pertanian tertentu perlu digunakan tanah yang lebih luas apabila bibit unggul dan pupuk tidak digunakan, tetapi luas tanah dapat dikurangi apabila pupuk dan bibit unggul dan teknik bercocok tanam modern digunakan. Dengan membandingkan berbagai gabungan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan sejumlah barang tertentu dapatlah ditentukan gabungan faktor produksi yang paling ekonomis untuk memproduksi sejumlah barang tersebut.

  3.     Teori Produksi Dengan Satu Input
Teori produksi yang sederhana menggambarkan tentang hubungan di antara tingkat produksi suatu barang dengan jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan berbagai tingkat produksi barang tersebut.
Dalam analisis tersebut dimisalkan bahwa faktor-faktor produksi lainnya adalah tetap jumlahnya, yaitu modal dan tanah jumlahnya dianggap tidak mengalami perubahan. Juga teknologi dianggap tidak mengalami perubahan. Satu-satunya faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya adalah tenaga kerja.
            Dalam teori ekonomi, sifat fungsi produksi diasumsikan tunduk pada suatu hukum yang disebut : “The Law of Diminishing Returns”  (Hukum Kenaikan Hasil Berkurang). “Hukum hasil lebih yang semakin berkurang menyatakan bahwa apabila faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya (tenaga kerja) terus menerus ditambah sebanyak satu unit, pada mulanya produksi total akan semakin banyak pertambahannya, tetapi sesudah mencapai suatu tingkat tertentu produksi tambahan akan semakin berkurang dan akhirnya mencapai nilai negatif. Sifat pertambahan produksi seperti ini menyebabkan pertambahan produksi total semakin lambat dan akhirnya akan mencapai tingkat maksimum dan kemudian menurun”.
Dengan demikian pada hakikatnya hukum hasil lebih yang semakin berkurang menyatakan bahwa hubungan diantara tingkat produksi dan jumlah tenaga kerja yang digunakan dapat dibedakan dalam tiga tahap, yaitu:
·         Tahap pertama : Produksi total mengalami pertambahan yang semakin cepat
·         Tahap kedua : Produksi total pertambahannya semakin lambat
·         Tahap ketiga : Produksi total semakin lama semakin berkurang

v  Produksi Total
Pengertian dari produk total (Total Product = TP) adalah ukuran keseluruhan atau produk yang dihasilkan dari penggunaan sejumlah sumber daya tertentu dalam sebuah sistem produksi. Konsep produk total dipergunakan untuk menggambarkan hubungan antara keluaran dan variasi dalam hanya satu masukan dalam fungsi produksi. Jadi produk total ini sama dengan Q dalam rumus fungsi produksi, sehingga produk total (TP) dituliskan sebagai berikut:

P = Q = Æ’(L,K̅) di mana K konstan
Atau:
P = Q = Æ’(L̅, K) di mana L konstan

v  Produksi Marginal
Dengan diketahui fungsi produk total untuk satu masukan, produk marginal dapat dengan mudah diturunkan. Jadi pengertian produk marginal untuk faktor L atau K adalah perubahan dalam keluaran yang diasosiasikan dengan perubahan satu unit dalam faktor tersebut dengan mempertahankan masukan-masukan lainnya tetap konstan. Dengan demikian fungsi produk marginal (marginal product = MP) merupakan turunan dari fungsi produksi total untuk faktor L atau K yang dirumuskan sebagai berikut:

MP  = 

v  Produksi Rata-Rata
Produk rata-rata dari sebuah faktor adalah produk total dibagi jumlah unit masukan yang dipergunakan, jadi rumusnya tetap mengacu pada rumus produk total sebagai berikut:

AP  = 

TABEL 1.1
Hubungan Jumlah Tenaga Kerja dan Jumlah Produksi

Tanah
(hektar)

(1)
Tenaga Kerja
(orang)
(2)
Produksi Total
(unit)
(3)
Produksi Marginal

(4)
Produksi Rata-Rata
(unit)
(5)
Tahap
(unit)

(6)
1
1
1
1
2
3
150
400
810
150
250
410
150
200
270
PERTAMA
1
1
1
1
1
4
5
6
7
8
1080
1290
1440
1505
1520
270
210
150
65
15
270
258
240
215
180
KEDUA
1
1
9
10
1440
1300
-80
-140
160
130
KETIGA


Dalam Tabel 1.1 dikemukakan suatu gambaran mengenai produksi suatu barang pertanian diatas sebidang tanah yang tetap jumlahnya, tetapi jumlah tenaga kerjanya berubah-ubah. Dalam gambaran itu ditunjukkan bahwa produksi total yang ditunjukkan dalam kolom (3) mengalami pertambahan yang semakin cepat apabila tenaga kerja ditambah dari 1 menjadi 2, dan 2 menjadi 3. Maka dalam keadaan ini kegiatan memproduksi mencapai tahap pertama. Dalam tahap ini setiap tambahan tenaga kerja menghasilkan tambahan produksi yang lebih besar dari yang dicapai pekerja sebelumnya. Dalam analisis ekonomi keadaan itu dinamakan produksi marginal pekerja yang semakin bertambah. Data dalam kolom (4) – Yaitu data produksi marginal pada tahap pertama, menggambarkan keadaan tersebut.
Apabila tenaga kerja ditambah dari 3 menjadi 4, kemudian 4 menjadi 5, kemudian 5 menjadi 6, dan selanjutnya 6 menjadi 7, produksi total tetap bertambah; tetapi jumlah pertambahannya semakin lama semakin sedikit. Maka dalam keadaan ini produksi mencapai tahap kedua, yaitu keadaan di mana produksi marginal semakin berkurang. Maksudnya, setiap pertambahan pekerja akan menghasilkan tambahan produksi kurang daripada tambahan produksi pekerja sebelumnya.
Pada tahap ketiga, pertambahan tenaga kerja tidak akan menambah produksi total, yaitu produksi total berkurang. pada waktu tenaga kerja bertambah dari 7 menjadi 8, produksi total masih mengalami peningkatan, yaitu sebanyak 15 unit. Akan tetapi apabila satu lagi tenaga kerja ditambah – dari 8 pekerja menjadi 9 pekerja, produksi totalnya menurun. Produksi total berkurang lebih lanjut apabila tenaga kerja menjadi 10.

3.1.        Produksi Total, Produksi Marginal dan Produksi Rata-Rata
Sebagai contoh perhitungan, perhatikan keadaan yang berlaku apabila tenaga kerja bertambah dari 4 menjadi 5 orang. Tabel 9.1 menunjukkan bahwa produksi bertambah dari 1080 menjadi 1290 (lihat kolom 3), yaitu pertambahan sebanyak 210 (ditunjukkan dalam kolom 4). Maka produksi marginal adalah: 210/1 = 210. Pada tahap pertama produksi marginal selalu menjadi bertambah besar. Produksi marginal adalah 250 pada waktu tenaga kerja bertambah dari 1 menjadi 2, dan produksi marginal meningkat sebanyak 410 apabila pekerja bertambah dari 2 menjadi 3. Pada tahap kedua produksi marginal semakin menurun besarnya. Ini berarti hukum hasil lebih yang semakin berkurang mulai berlaku semenjak permulaan tahap kedua. Pada tahap ketiga produksi marginal adalah negatif.
Ketika tenaga kerja yang digunakan adalah 2 orang, produksi total adalah 400. Dengan demikian produksi rata-rata adalah: 400/2 = 200. Angka-angka dalam kolom (5) menunjukkan bahwa dalam tahap pertama  jumlah produksi rata-rata semakin bertambah besar. Apabila 2 pekerja saja digunakan, seperti telah ditunjukkan di atas, produksi rata-rata hanya 200. Produksi rata-rata mencapai jumlah yang paling tinggi pada waktu jumlah tenaga kerja adalah 3 dan 4, yaitu pada permulaan tahap kedua (atau pada batas tahap pertama dan tahap kedua). Jumlah produksi rata-rata yang paling tinggi ini adalah 270. Sesudah tahap ini produksi rata-rata semakin lama semakin kecil jumlahnya.
                                                 
3.2.        Kurva Produksi Total, Produksi Marginal Dan Produksi Rata-Rata

Gambar 1.1


Hubungan-hubungan yang baru saja diterangkan di atas antara produksi total, produksi rata-rata, dan produksi marginal dapat digambarkan secara grafik, yaitu seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 1.1. Kurva TP adalah kurva produksi total. Ia menunjukkan hubungan antara jumlah produksi dan jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan produksi tersebut. Bentuk TP cekung ke atas apabila tenaga kerja yang digunakan masih sedikit (yaitu apabila tenaga kerja kurang dari 3). Ini berarti tenaga kerja adalah masih kekurangan kalau dibandingkan dengan faktor produksi lain (dalam contoh faktor produksi lain tersebut adalah tanah) yang dianggap tetap jumlahnya. Dalam keadaan yang seperti itu produksi marginal bertambah tinggi, dan sifat ini dapat dilihat pada kurva MP (yaitu kurva produksi marginal) yang menaik.
            Setelah menggunakan 4 tenaga kerja, pertambahan tenaga kerja selanjutnya tidak akan menambah produksi total secepat seperti sebelumnya. Keadaan ini digambarkan oleh (i) kurva produksi marginal (kurva MP) yang menurun, dan (ii) kurva produksi total (kurva TP) yang mulai berbentuk cabang ke atas.
            Sebelum tenaga kerja yang digunakan melebihi 4, produksi marginal adalah lebih tinggi daripada produksi rata-rata. Maka kurva produksi rata-rata, yaitu kurva AP, akan bergerak ke atas atau horizontal. Keadaan ini menggambarkan bahwa produksi rata-rata bertambah tinggi atau tetap. Pada waktu 4 tenaga kerja digunakan kurva produksi marginal memotong kurva produksi rata-rata. Sesudah perpotongan tersebut kurva produksi rata-rata menurun ke bawah yang menggambarkan bahwa produksi rata-rata semakin merosot. Perpotongan di antara kurva MP dan kurva AP menggambarkan permulaan dari tahap kedua. Pada keadaan ini produksi rata-rata mencapai tingkat yang paling tinggi.
            Tahap ketiga dimulai pada waktu 9 tenaga kerja digunakan. Pada tingkat tersebut kurva MP memotong sumbu datar dan sesudahnya kurva tersebut berada di bawah sumbu datar. Keadaan ini menggambarkan bahwa produksi marginal mencapai angka yang negatif. Kurva produksi total (TP) mulai menurun pada tingkat ini, yang menggambarkan bahwa produksi total semakin berkurang apabila lebih banyak tenaga kerja digunakan. Keadaan dalam tahap ketiga ini menunjukkan bahwa tenaga kerja yang digunakan adalah jauh melebihi daripada yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan produksi tersebut secara efisien.


  4.      Teori Produksi Dengan Dua Input
Analisis yang baru saja dibuat menggambarkan bagaimana tingkat produksi akan mengalami perubahan apabila dimisalkan satu produksi, yaitu tenaga kerja, terus menerus ditambah tetapi faktor-faktor produksi lainnya dianggap tetap jumlahnya, yaitu tidak dapat diubah lagi. Dalam analisis yang berikut dimisalkan terdapat dua jenis faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya. Kita misalkan yang dapat diubah adalah tenaga kerja dan modal. Misalkan pula bahwa kedua faktor produksi yang dapat berubah ini dapat dipertukar-tukarkan penggunaannya; yaitu tenaga kerja dapat menggantikan modal atau sebaliknya. Apabila dimisalkan pula harga tenaga kerja dan pembayaran per unit kepada faktor modal diketahui, analisis tentang bagaimana perusahaan akan meminimumkan biaya dalam usahanya untuk mencapai suatu tingkat produksi tertentu dapat ditunjukkan.

4.1.        Kurva Produksi Sama (ISOQUANT)
Misalkan seorang pengusaha ingin memproduksi suatu barang sebanyak 1000 unit. Untuk memproduksikan barang tersebut ia menggunakan tenaga kerja dan modal yang penggunaannya dapat dipertukarkan. Di dalam tabel 1.2 digambarkan empat gabungan tenaga kerja dan modal yang akan menghasilkan produksi sebanyak 1000 unit.

Tabel 1.2
Gabungan Tenaga Kerja dan Modal untuk Menghasilkan 1000 Unit Produksi

Gabungan
Tenaga kerja (unit)
Modal (unit)
A
B
C
D
1
2
3
6
6
3
2
1



Gambar 1.2
Kurva Produksi Sama



















Gabungan A menunjukkan bahwa 1 unit tenaga kerja dan 6 unit modal dapat menghasilkan produksi yang diinginkan tersebut. Gabungan B menunjukkan bahwa yang diperlukan adalah 2 unit tenaga kerja dan 3 unit modal. Gabungan C menunjukkan yang diperlukan adalah 3 unit tenaga kerja dan 2 unit modal. Akhirnya gabungan D menunjukkan bahwa yang diperlukan adalah 6 unit tenaga kerja dan 1 unit modal.
            Kurva IQ dalam Gambar 1.2 dibuat berdasarkan gabungan tenaga kerja dan modal yang terdapat dalam Tabel 1.2. kurva tersebut dinamakan kurva produksi sama atau isoquant. Ia menggambarkan gabungan tenaga kerja dan modal yang akan menghasilkan satu tingkat produksi tertentu. Dalam contoh yang dibuat tingkat produksi tersebut adalah 1000 unit. Di samping itu didapati kurva IQ1, IQ2, IQ3 yang terletak di atas kurva IQ. Ketiga-tiga kurva lain tersebut menggambarkan tingkat produksi yang berbeda-beda, yaitu berturut-turut sebanyak 2000 unit, 3000 unit dan 4000 unit (semakin jauh dari titik 0 letaknya kurva, semakin tinggi tingkat produksi yang ditunjukkan). Masing-masing kurva yang baru tersebut menunjukkan gabungan-gabungan tenaga kerja dan modal yang diperlukan untuk menghasilkan tingkat produksi yang ditunjukkannya.

4.2.        Garis Biaya Sama (ISOCOST)
Untuk menghemat biaya produksi dan memaksimumkan keuntungan, perusahaan harus meminimumkan biaya produksi. Untuk membuat analisis mengenai peminimuman biaya produksi perlulah dibuat garis biaya sama atau isocost. Garis ini menggambarkan gabungan faktor-faktor produksi yang dapat diperoleh dengan menggunakan sejumlah biaya tertentu. Untuk dapat membuat garis biaya sama data berikut diperlukan: (i) harga faktor-faktor produksi yang digunakan, dan (ii) jumlah uang yang tersedia untuk membeli faktor-faktor produksi. Berdasarkan contoh yang telah dibuat di atas misalkan upah tenaga kerja adalah Rp. 10000 dan biaya modal per unit Rp. 20000; sedangkan jumlah uang yang tersedia adalah Rp. 80000. Garis TC dalam Gambar 1.3 menunjukkan gabungan-gabungan tenaga kerja dan modal yang dapat diperoleh dengan menggunakan Rp. 80000 apabila upah tenaga kerja dan biaya modal per unit adalah seperti yang dimisalkan di atas. Uang tersebut, apabila digunakan untuk memperoleh “modal” saja akan memperoleh 80000/20000 = 4 unit, dan kalau digunakan untuk memperoleh tenaga kerja saja akan memperoleh 80000/10000 = 8 unit. Seterusnya titik A pada TC menunjukkan dana sebanyak Rp. 80000 dapat digunakan untuk memperoleh 2 unit modal dan 4 pekerja. Dalam Gambar 1.3 ditunjukkan beberapa garis biaya sama yang lain yaitu TC1, TC2 dan TC3. Garis-garis itu menunjukkan garis biaya sama apabila jumlah uang yang tersedia adalah Rp. 100000, Rp. 120000 dan Rp. 140000.

Gambar 1.3
Garis Biaya Sama
2016-04-30 04.54.42 1 (A).jpg




























BAB III
PENUTUP


  1.     KESIMPULAN
Sebagai langkah permulaan untuk menerangkan kegiatan perusahaan dalam memproduksi dan mencari keuntungan, teori produksi menerangkan tentang fungsi produksi dalam jangka pendek. Fungsi produksi jangka pendek memisalkan hanya tenaga kerja yang dapat ditambah jumlahnya. Faktor produksi yang lain dianggap tetap.
Kegiatan memproduksi dalam jangka pendek dipengaruhi oleh hukum produksi marginal yang semakin menurun/berkurang. hukum ini menyatakan, pada permulaannya, pada tahap awal dari proses produksi, pertambahan seunit (seorang) tenaga kerja akan meningkatkan produksi marginal. Akan tetapi pada tahap berikutnya, pertambahan seunit (seorang) tenaga kerja akan menambah produksi marginal pada kuantitas yang semakin berkurang sehingga pada akhirnya produksi marginal adalah nol. Pada tahap berikutnya produksi total akan merosot dan produksi marginal adalah negatif.