BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Ilmu ekonomi adalah suatu telah mengenai
individu-individu dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya dengan menggunakan
sumberdaya yang terbatas sebagai konsekuensi dari adanya kelangkaan. Kelangkaan
berarti tidak semua kebutuhan manusia dapat dipenuhi sehingga memaksa manusia
untuk membuat pilihan. Dengan melakukan pilihan, pemenuhan atas suatu kebutuhan
tertentu memiliki implikasi mengorbankan kebutuhan lain. Teori ekonomi memberikan gambaran umum yang
disederhanakan mengenai kegiatan-kegiatan ekonomi dan sifat-sifat hubungan
ekonomi disertai dengan penerapan prinsip-prinsip ekonomi mikro. Ekonomi mikro
menangani perilaku satuan-satuan ekonomi mencakup konsumen, pekerja, para
penanam modal, pemilik tanah dan setiap individu yang memainkan peranan dalam
fungsi perekonomian.
Dalam makalah ini kami akan membahas
tentang teori produksi,
yaitu bagaimana fungsi produksi, yang membahas
hubungan di antara faktor-faktor produksi dan tingkat produksi yang dihasilkan.
Faktor-faktor produksi dapat dibedakan menjadi empat golongan, yaitu tenaga
kerja, tanah, modal dan keahlian keusahawanan. Di dalam teori ekonomi, di dalam
menganalisis mengenai produksi, selalu dimisalkan bahwa tiga faktor produksi
yang belakangan dinyatakan (tanah, modal dan keahlian keusahawanan) adalah
jumlahnya tetap. Hanya tenaga kerja yang dipandang sebagai faktor yang
berubah-ubah jumlahnya. Dengan demikian, di dalam menggambarkan hubungan di
antara faktor produksi yang digunakan dan tingkat produksi yang dicapai, yang
digambarkan adalah hubungan diantara jumlah tenaga kerja yang digunakan dan
jumlah produksi yang dicapai. Selain itu, juga membahas tentang teori produksi
dengan satu input dan teori produksi dengan dua input.
BAB II
PEMBAHASAN
11. Pengertian Teori Produksi
Secara umum, produksi dapat diartikan sebagai kegiatan
optimalisasi dari faktor-faktor
produksi seperti, tenaga kerja, modal, dan lain-lainnya oleh perusahaan yang
menghasilkan produk berupa barang-barang dan jasa-jasa. Secara teknis, kegiatan
produksi dilakukan dengan mengombinasikan beberapa input untuk menghasilkan sejumlah
output. Dalam pengertian ekonomi, produksi didefinisikan sebagai usaha manusia
untuk menciptakan atau menambah daya atau nilai guna dari suatu barang atau
benda untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Bagi kebanyakan manajer
perusahaan, persoalan produksi yang dihadapi adalah bagaimana memproduksi suatu
produk dengan komposisi yang paling menguntungkan baik komposisi input yang
dipergunakan maupun komposisi jenis produk yang akan dihasilkan. Untuk memaksimumkan
profit, para manajer perusahaan harus berorientasi pada usaha memproduksi
secara efisien dengan beban biaya minimal.
Hal ini diartikan sebagai
upaya untuk secara terus menerus mencari dan menemukan metode rekayasa
memproduksi serta membandingkan metode yang dipakai dengan metode yang sudah
pernah digunakan oleh perusahaan sebelumnya. Dari perbandingan tersebut dipilih
suatu metode yang merupakan terbaik, dengan menghasilkan keuntungan tertinggi
bagi perusahaan.
Pada teori produksi yang
biasa dibahas dalam kebanyakan literatur ekonomi manajerial terdapat berbagai
macam metode pendekatan. Pendekatan yang pertama ialah pendekatan yang
menggunakan satu input. Pendekatan kedua dikenal sebagai pendekatan dua input
dan pendekatan ketiga adalah dengan pendekatan biaya total. Tetapi yang akan
dibahas hanya pendekatan yang menggunakan satu input dan pendekatan yang
menggunakan dua input.
2. Fungsi Produksi
Secara
definitif, fungsi produksi adalah fungsi yang menjelaskan hubungan antara tingkat
kombinasi input (faktor produksi) dengan tingkat output yang dimungkinkan untuk
diproduksi pada tingkat kombinasi input tersebut. Faktor-faktor produksi yang
dimaksud disini antara lain berupa sumber daya alam dan energi (SDAE), sumber
daya manusia atau SDM (tenaga kerja), sumber daya kapital (SDK), sumber daya
teknologi (SDT), dan lain-lain. Hubungan antara masukan dan keluaran dinyatakan
oleh sebuah fungsi yang disebut fungsi produksi, secara matematis dirumuskan
sebagai berikut:
Q
= fungsi (SDAE, SDM, SDK, SDT, …..)
atau
Q
= fungsi (X1, X2, X3, ….. Xn)
Keterangan :
Q = Kuantitas output yang dimungkinkan
diproduksi
X1,2,3,…,n = Faktor-faktor
produksi
Pada bentuk matematis di atas fungsi
produksi kita dapatkan faktor produksi sebanyak n dengan output sejumlah 1. Ini
berarti untuk menggambarkan fungsi produksi ini secara grafis memerlukan n + 1
dimensi. Jika n > 2 maka penggambaran fungsi produksi memerlukan lebih dari
3 dimensi dan ini merupakan hal yang sangat sulit atau bahkan tidak mungkin
dilakukan. Agar penggambaran fungsi produksi dapat dengan mudah kita laksanakan
maka biasanya dalam fungsi produksi yang kita masukkan dan kita kombinasikan
hanyalah 2 faktor produksi, yaitu modal dan tenaga kerja. Fungsi produksi yang
telah kita sederhanakan menjadi:
Q
= ƒ(K, L, R, T)
Dimana K adalah faktor produksi
modal (Capital), L adalah faktor produksi tenaga kerja (Labour) dan ini
meliputi berbagai jenis tenaga kerja dan keahlian keusahawanan, R adalah
kekayaan alam, dan T adalah tingkat teknologi yang digunakan. Sedangkan Q
adalah jumlah produksi yang dihasilkan oleh berbagai jenis faktor-faktor
produksi tersebut, yaitu secara bersama digunakan untuk memproduksi barang yang
sedang dianalisis sifat produksinya.
Persamaan tersebut merupakan suatu
pernyataan matematik yang pada dasarnya berarti bahwa tingkat produksi suatu
barang tergantung kepada jumlah modal, jumlah tenaga kerja, jumlah kekayaan
alam, dan tingkat teknologi yang digunakan jumlah produksi yang berbeda-beda
dengan sendirinya akan memerlukan berbagai faktor produksi tersebut dalam
jumlah yang berbeda-beda juga. Di samping itu, untuk satu tingkat produksi
tertentu, dapat pula digunakan gabungan faktor produksi yang berbeda. Sebagai
contoh untuk memproduksi sejumlah hasil pertanian tertentu perlu digunakan
tanah yang lebih luas apabila bibit unggul dan pupuk tidak digunakan, tetapi
luas tanah dapat dikurangi apabila pupuk dan bibit unggul dan teknik bercocok
tanam modern digunakan. Dengan membandingkan berbagai gabungan faktor-faktor
produksi untuk menghasilkan sejumlah barang tertentu dapatlah ditentukan
gabungan faktor produksi yang paling ekonomis untuk memproduksi sejumlah barang
tersebut.
3. Teori Produksi Dengan Satu Input
Teori produksi yang sederhana
menggambarkan tentang hubungan di antara tingkat produksi suatu barang dengan
jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan berbagai tingkat produksi
barang tersebut.
Dalam
analisis tersebut dimisalkan bahwa faktor-faktor produksi lainnya adalah tetap
jumlahnya, yaitu modal dan tanah jumlahnya dianggap tidak mengalami perubahan.
Juga teknologi dianggap tidak mengalami perubahan. Satu-satunya faktor produksi
yang dapat diubah jumlahnya adalah tenaga kerja.
Dalam teori ekonomi, sifat
fungsi produksi diasumsikan tunduk pada suatu hukum yang disebut : “The Law
of Diminishing Returns” (Hukum Kenaikan Hasil Berkurang). “Hukum hasil lebih yang semakin berkurang
menyatakan bahwa apabila faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya (tenaga
kerja) terus menerus ditambah sebanyak satu unit, pada mulanya produksi total
akan semakin banyak pertambahannya, tetapi sesudah mencapai suatu tingkat
tertentu produksi tambahan akan semakin berkurang dan akhirnya mencapai nilai
negatif. Sifat pertambahan produksi seperti ini menyebabkan pertambahan
produksi total semakin lambat dan akhirnya akan mencapai tingkat maksimum dan
kemudian menurun”.
Dengan
demikian pada hakikatnya hukum hasil lebih yang semakin berkurang menyatakan
bahwa hubungan diantara tingkat produksi dan jumlah tenaga kerja yang digunakan
dapat dibedakan dalam tiga tahap, yaitu:
·
Tahap pertama : Produksi total mengalami pertambahan
yang semakin cepat
·
Tahap kedua : Produksi total pertambahannya
semakin lambat
·
Tahap ketiga : Produksi total semakin lama semakin
berkurang
v Produksi Total
Pengertian dari produk total (Total Product = TP) adalah
ukuran keseluruhan atau produk yang dihasilkan dari penggunaan sejumlah sumber
daya tertentu dalam sebuah sistem produksi. Konsep produk total dipergunakan
untuk menggambarkan hubungan antara keluaran dan variasi dalam hanya satu
masukan dalam fungsi produksi. Jadi produk total ini sama dengan Q dalam rumus
fungsi produksi, sehingga produk total (TP) dituliskan sebagai berikut:
P = Q = ƒ(L,K̅) di mana K konstan
Atau:
P = Q = ƒ(L̅, K) di mana L konstan
v Produksi Marginal
Dengan diketahui fungsi produk total
untuk satu masukan, produk marginal dapat dengan mudah diturunkan. Jadi
pengertian produk marginal untuk faktor L atau K adalah perubahan dalam
keluaran yang diasosiasikan dengan perubahan satu unit dalam faktor tersebut
dengan mempertahankan masukan-masukan lainnya tetap konstan. Dengan demikian
fungsi produk marginal (marginal product = MP) merupakan turunan dari fungsi
produksi total untuk faktor L atau K yang dirumuskan sebagai berikut:
MP
=
v Produksi Rata-Rata
Produk rata-rata dari sebuah faktor adalah produk total
dibagi jumlah unit masukan yang dipergunakan, jadi rumusnya tetap mengacu pada
rumus produk total sebagai berikut:
AP =
TABEL
1.1
Hubungan
Jumlah Tenaga Kerja dan Jumlah Produksi
Tanah
(hektar)
(1)
Tenaga
Kerja
(orang)
(2)
Produksi
Total
(unit)
(3)
Produksi
Marginal
(4)
Produksi
Rata-Rata
(unit)
(5)
Tahap
(unit)
(6)
1
1
1
1
2
3
150
400
810
150
250
410
150
200
270
PERTAMA
1
1
1
1
1
4
5
6
7
8
1080
1290
1440
1505
1520
270
210
150
65
15
270
258
240
215
180
KEDUA
1
1
9
10
1440
1300
-80
-140
160
130
KETIGA
Dalam
Tabel 1.1 dikemukakan suatu gambaran mengenai produksi suatu barang pertanian
diatas sebidang tanah yang tetap jumlahnya, tetapi jumlah tenaga kerjanya
berubah-ubah. Dalam gambaran itu ditunjukkan bahwa produksi total yang
ditunjukkan dalam kolom (3) mengalami pertambahan yang semakin cepat apabila
tenaga kerja ditambah dari 1 menjadi 2, dan 2 menjadi 3. Maka dalam keadaan ini
kegiatan memproduksi mencapai tahap
pertama. Dalam tahap ini setiap tambahan tenaga kerja menghasilkan tambahan
produksi yang lebih besar dari yang dicapai pekerja sebelumnya. Dalam analisis
ekonomi keadaan itu dinamakan produksi
marginal pekerja yang semakin bertambah. Data dalam kolom (4) – Yaitu data
produksi marginal pada tahap pertama, menggambarkan
keadaan tersebut.
Apabila
tenaga kerja ditambah dari 3 menjadi 4, kemudian 4 menjadi 5, kemudian 5
menjadi 6, dan selanjutnya 6 menjadi 7, produksi total tetap bertambah; tetapi
jumlah pertambahannya semakin lama semakin sedikit. Maka dalam keadaan ini
produksi mencapai tahap kedua, yaitu
keadaan di mana produksi marginal semakin
berkurang. Maksudnya, setiap pertambahan pekerja akan menghasilkan tambahan produksi kurang
daripada tambahan produksi pekerja sebelumnya.
Pada
tahap ketiga, pertambahan tenaga
kerja tidak akan menambah produksi total, yaitu produksi total berkurang. pada
waktu tenaga kerja bertambah dari 7 menjadi 8, produksi total masih mengalami
peningkatan, yaitu sebanyak 15 unit. Akan tetapi apabila satu lagi tenaga kerja
ditambah – dari 8 pekerja menjadi 9 pekerja, produksi totalnya menurun.
Produksi total berkurang lebih lanjut apabila tenaga kerja menjadi 10.
3.1.
Produksi Total, Produksi Marginal dan
Produksi Rata-Rata
Sebagai
contoh perhitungan, perhatikan keadaan yang berlaku apabila tenaga kerja
bertambah dari 4 menjadi 5 orang. Tabel 9.1 menunjukkan bahwa produksi
bertambah dari 1080 menjadi 1290 (lihat kolom 3), yaitu pertambahan sebanyak
210 (ditunjukkan dalam kolom 4). Maka produksi marginal adalah: 210/1 = 210.
Pada tahap pertama produksi marginal selalu menjadi bertambah besar. Produksi
marginal adalah 250 pada waktu tenaga kerja bertambah dari 1 menjadi 2, dan
produksi marginal meningkat sebanyak 410 apabila pekerja bertambah dari 2
menjadi 3. Pada tahap kedua produksi marginal semakin menurun besarnya. Ini
berarti hukum hasil lebih yang semakin berkurang mulai berlaku semenjak
permulaan tahap kedua. Pada tahap ketiga produksi marginal adalah negatif.
Ketika
tenaga kerja yang digunakan adalah 2 orang, produksi total adalah 400. Dengan
demikian produksi rata-rata adalah: 400/2 = 200. Angka-angka dalam kolom (5)
menunjukkan bahwa dalam tahap pertama
jumlah produksi rata-rata semakin bertambah besar. Apabila 2 pekerja
saja digunakan, seperti telah ditunjukkan di atas, produksi rata-rata hanya
200. Produksi rata-rata mencapai jumlah yang paling tinggi pada waktu jumlah
tenaga kerja adalah 3 dan 4, yaitu pada permulaan tahap kedua (atau pada batas
tahap pertama dan tahap kedua). Jumlah produksi rata-rata yang paling tinggi
ini adalah 270. Sesudah tahap ini produksi rata-rata semakin lama semakin kecil
jumlahnya.
3.2.
Kurva Produksi Total, Produksi
Marginal Dan Produksi Rata-Rata
Gambar 1.1
Hubungan-hubungan
yang baru saja diterangkan di atas antara produksi total, produksi rata-rata,
dan produksi marginal dapat digambarkan secara grafik, yaitu seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar 1.1. Kurva TP adalah kurva produksi total. Ia
menunjukkan hubungan antara jumlah produksi dan jumlah tenaga kerja yang
digunakan untuk menghasilkan produksi tersebut. Bentuk TP cekung ke atas
apabila tenaga kerja yang digunakan masih sedikit (yaitu apabila tenaga kerja
kurang dari 3). Ini berarti tenaga kerja adalah masih kekurangan kalau
dibandingkan dengan faktor produksi lain (dalam contoh faktor produksi lain
tersebut adalah tanah) yang dianggap tetap jumlahnya. Dalam keadaan yang
seperti itu produksi marginal bertambah tinggi, dan sifat ini dapat dilihat
pada kurva MP (yaitu kurva produksi
marginal) yang menaik.
Setelah menggunakan 4 tenaga kerja,
pertambahan tenaga kerja selanjutnya tidak akan menambah produksi total secepat
seperti sebelumnya. Keadaan ini digambarkan oleh (i) kurva produksi marginal
(kurva MP) yang menurun, dan (ii) kurva produksi total (kurva TP) yang mulai
berbentuk cabang ke atas.
Sebelum tenaga kerja yang digunakan
melebihi 4, produksi marginal adalah lebih tinggi daripada produksi rata-rata.
Maka kurva produksi rata-rata, yaitu kurva AP, akan bergerak ke atas atau
horizontal. Keadaan ini menggambarkan bahwa produksi rata-rata bertambah tinggi
atau tetap. Pada waktu 4 tenaga kerja digunakan kurva produksi marginal
memotong kurva produksi rata-rata. Sesudah perpotongan tersebut kurva produksi
rata-rata menurun ke bawah yang menggambarkan bahwa produksi rata-rata semakin
merosot. Perpotongan di antara kurva MP dan kurva AP menggambarkan permulaan
dari tahap kedua. Pada keadaan ini produksi rata-rata mencapai tingkat yang
paling tinggi.
Tahap ketiga dimulai pada waktu 9
tenaga kerja digunakan. Pada tingkat tersebut kurva MP memotong sumbu datar dan
sesudahnya kurva tersebut berada di bawah sumbu datar. Keadaan ini
menggambarkan bahwa produksi marginal mencapai angka yang negatif. Kurva
produksi total (TP) mulai menurun pada tingkat ini, yang menggambarkan bahwa
produksi total semakin berkurang apabila lebih banyak tenaga kerja digunakan.
Keadaan dalam tahap ketiga ini menunjukkan bahwa tenaga kerja yang digunakan
adalah jauh melebihi daripada yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan
produksi tersebut secara efisien.
4. Teori Produksi Dengan Dua Input
Analisis
yang baru saja dibuat menggambarkan bagaimana tingkat produksi akan mengalami
perubahan apabila dimisalkan satu produksi, yaitu tenaga kerja, terus menerus
ditambah tetapi faktor-faktor produksi lainnya dianggap tetap jumlahnya, yaitu
tidak dapat diubah lagi. Dalam analisis
yang berikut dimisalkan terdapat dua jenis faktor produksi yang dapat diubah
jumlahnya. Kita misalkan yang dapat diubah adalah tenaga kerja dan modal.
Misalkan pula bahwa kedua faktor produksi yang dapat berubah ini dapat
dipertukar-tukarkan penggunaannya; yaitu tenaga kerja dapat menggantikan modal
atau sebaliknya. Apabila dimisalkan pula harga tenaga kerja dan pembayaran per
unit kepada faktor modal diketahui, analisis tentang bagaimana perusahaan akan
meminimumkan biaya dalam usahanya untuk mencapai suatu tingkat produksi
tertentu dapat ditunjukkan.
4.1.
Kurva Produksi Sama (ISOQUANT)
Misalkan
seorang pengusaha ingin memproduksi suatu barang sebanyak 1000 unit. Untuk
memproduksikan barang tersebut ia menggunakan tenaga kerja dan modal yang
penggunaannya dapat dipertukarkan. Di dalam tabel 1.2 digambarkan empat
gabungan tenaga kerja dan modal yang akan menghasilkan produksi sebanyak 1000
unit.
Tabel 1.2
Gabungan Tenaga Kerja dan Modal
untuk Menghasilkan 1000 Unit Produksi
Gabungan
Tenaga
kerja (unit)
Modal
(unit)
A
B
C
D
1
2
3
6
6
3
2
1
Gambar 1.2
Kurva Produksi Sama
Gabungan A menunjukkan bahwa 1 unit
tenaga kerja dan 6 unit modal dapat menghasilkan produksi yang diinginkan
tersebut. Gabungan B menunjukkan bahwa yang diperlukan adalah 2 unit tenaga
kerja dan 3 unit modal. Gabungan C menunjukkan yang diperlukan adalah 3 unit
tenaga kerja dan 2 unit modal. Akhirnya gabungan D menunjukkan bahwa yang
diperlukan adalah 6 unit tenaga kerja dan 1 unit modal.
Kurva
IQ dalam Gambar 1.2 dibuat berdasarkan gabungan tenaga kerja dan modal yang
terdapat dalam Tabel 1.2. kurva tersebut dinamakan kurva produksi sama atau isoquant.
Ia menggambarkan gabungan tenaga kerja
dan modal yang akan menghasilkan satu tingkat produksi tertentu. Dalam
contoh yang dibuat tingkat produksi tersebut adalah 1000 unit. Di samping itu didapati
kurva IQ1, IQ2, IQ3 yang terletak di atas
kurva IQ. Ketiga-tiga kurva lain tersebut menggambarkan tingkat produksi yang
berbeda-beda, yaitu berturut-turut sebanyak 2000 unit, 3000 unit dan 4000 unit
(semakin jauh dari titik 0 letaknya kurva, semakin tinggi tingkat produksi yang
ditunjukkan). Masing-masing kurva yang baru tersebut menunjukkan
gabungan-gabungan tenaga kerja dan modal yang diperlukan untuk menghasilkan
tingkat produksi yang ditunjukkannya.
4.2.
Garis Biaya Sama (ISOCOST)
Untuk menghemat biaya produksi dan
memaksimumkan keuntungan, perusahaan harus meminimumkan biaya produksi. Untuk
membuat analisis mengenai peminimuman biaya produksi perlulah dibuat garis biaya sama atau isocost. Garis ini menggambarkan gabungan faktor-faktor produksi yang dapat
diperoleh dengan menggunakan sejumlah biaya tertentu. Untuk dapat membuat
garis biaya sama data berikut diperlukan: (i) harga faktor-faktor produksi yang
digunakan, dan (ii) jumlah uang yang tersedia untuk membeli faktor-faktor
produksi. Berdasarkan contoh yang telah dibuat di atas misalkan upah tenaga kerja
adalah Rp. 10000 dan biaya modal per unit Rp. 20000; sedangkan jumlah uang yang
tersedia adalah Rp. 80000. Garis TC dalam Gambar 1.3 menunjukkan
gabungan-gabungan tenaga kerja dan modal yang dapat diperoleh dengan
menggunakan Rp. 80000 apabila upah tenaga kerja dan biaya modal per unit adalah
seperti yang dimisalkan di atas. Uang tersebut, apabila digunakan untuk
memperoleh “modal” saja akan memperoleh 80000/20000 = 4 unit, dan kalau
digunakan untuk memperoleh tenaga kerja saja akan memperoleh 80000/10000 = 8
unit. Seterusnya titik A pada TC menunjukkan dana sebanyak Rp. 80000 dapat
digunakan untuk memperoleh 2 unit modal dan 4 pekerja. Dalam Gambar 1.3
ditunjukkan beberapa garis biaya sama yang lain yaitu TC1, TC2
dan TC3. Garis-garis itu menunjukkan garis biaya sama apabila jumlah
uang yang tersedia adalah Rp. 100000, Rp. 120000 dan Rp. 140000.
Gambar 1.3
Garis
Biaya Sama
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Sebagai langkah permulaan untuk
menerangkan kegiatan perusahaan dalam memproduksi dan mencari keuntungan, teori
produksi menerangkan tentang fungsi produksi dalam jangka pendek. Fungsi
produksi jangka pendek memisalkan hanya tenaga kerja yang dapat ditambah
jumlahnya. Faktor produksi yang lain dianggap tetap.
Kegiatan memproduksi dalam jangka
pendek dipengaruhi oleh hukum produksi marginal yang semakin menurun/berkurang.
hukum ini menyatakan, pada permulaannya, pada tahap awal dari proses produksi,
pertambahan seunit (seorang) tenaga kerja akan meningkatkan produksi marginal.
Akan tetapi pada tahap berikutnya, pertambahan seunit (seorang) tenaga kerja
akan menambah produksi marginal pada kuantitas yang semakin berkurang sehingga
pada akhirnya produksi marginal adalah nol. Pada tahap berikutnya produksi
total akan merosot dan produksi marginal adalah negatif.
|
Tanah
(hektar)
(1)
|
Tenaga
Kerja
(orang)
(2)
|
Produksi
Total
(unit)
(3)
|
Produksi
Marginal
(4)
|
Produksi
Rata-Rata
(unit)
(5)
|
Tahap
(unit)
(6)
|
|
1
1
1
|
1
2
3
|
150
400
810
|
150
250
410
|
150
200
270
|
PERTAMA
|
|
1
1
1
1
1
|
4
5
6
7
8
|
1080
1290
1440
1505
1520
|
270
210
150
65
15
|
270
258
240
215
180
|
KEDUA
|
|
1
1
|
9
10
|
1440
1300
|
-80
-140
|
160
130
|
KETIGA
|
|
Gabungan
|
Tenaga
kerja (unit)
|
Modal
(unit)
|
|
A
B
C
D
|
1
2
3
6
|
6
3
2
1
|

Mau tanya, cara mencari titik singgung AP dengan MP gmana? rumusnya gmana? dari contoh itu, coba cari bagaimana cara menentukan titik persinggungan anatara kurva AP dengan MP
BalasHapusrumus AP = Total produksi dibagi dengan total tenaga kerja, kalau MP = Jumlah total produksi dibadi dengan jumlah total tenaga kerja. semoga membantu :)
Hapus